Skip to main content

Media Social di Balik Kemenangan Jokowi-Ahok

Dahlan Dahi

Tidak ada faktor tunggal yang menjelaskan kemenangan meyakinkan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI.

Citra diri yang baik, diikuti "relawan" yang memproduksi dan mendistribusikan konten (pesan) ke dalam jejaring media sosial bisa menjadi penjelasan.

Ini faktanya:
Jokowi-Basuki lebih banyak menggunakan sosial media (Twitter, Facebook, youtube, dan lain-lain) sebanyak 55,20 persen, sedangkan Foke-Nara hanya 34,10 persen.

 Sumber: TRIBUNnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil quick count Pemilukada DKI Jakarta, yang menempatkan Jokowi-Basuki sebagai pemenang dengan 53,68 persen suara, mengalahkan Foke-Nara yang hanya meraih 46,32 persen suara.

Peneliti LSI Setia Darma menjelaskan mengapa Jokowi-Basuki menang. Berdasarkan survei yang dilakukan pada September, ada beberapa faktor yang menyebabkan Jokowi-Basuki meraih suara yang lebih besar ketimbang Foke-Nara.

     Lihat Juga: Pendukung Patungan untuk Beli Mobil

Pertama, berdasarkan survei yang telah dilakukan, sosok Jokowi-Basuki lebih disukai publik Jakarta.
"Sebesar 65,2 persen, Jokowi-Ahok lebih disukai publik Jakrta yang baru mengenalnya. Sedangkan Foke hanya 60,9 persen," ujar Setia di Kantor LSI, Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (20/9/2012).
Kedua, lanjutnya, kinerja Foke dinilai kurang memuaskan oleh publik Jakarta.

"Sekitar 36,2 persen publik yang menilai kinerja Foke tidak memuaskan," jelasnya.
Ketiga, adanya blunder isu SARA yang kurang disukai masyarakat.

"Mayoritas publik, 51,6 persen tidak suka isu SARA. Artinya, publik DKI pro terhadap keberagaman," imbuh Setia.

Keempat, mayoritas masyarakat Jakarta ingin adanya perubahan.

"Masyarakat merasa jemu dengan permasalahan Jakarta, dan 87,7 persen ingin perubahan," ungkapnya.

Kelima, adanya limpahan dukungan suara dari putaran pertama penyisihan.
"Pada hari-hari terakhir, terjadi migrasi suara yang masif dari pendukung HNW-Didik dan Alex-Nono ke Foke-Nara. Sedangkan pendukung Faisal-Biem dan Hendarji-Riza cenderung ke Jokowi-Ahok," terangnya.

Keenam, golput Jokowi lebih sedikit.

"Pendukung Foke banyak yang golput, sedangkan pendukung Jokowi lebih maksimal," kata Setia.
Terakhir, sosialisasi yang dilakukan Jokowi-Basuki lebih efektif memengaruhi pemilih, karena banyak dilakukan lewat sosial media.

"DKI ini spesial, karena sebagian besar masyarakat memiliki akses kepada media. Publik DKI akan lebih mudah mengakses apa dan siapa calon yang akan dipilihnya, berbeda dengan publik di daerah yang cenderung sulit mendapatkan akses terhadap media," bebernya.

Jokowi-Basuki lebih banyak menggunakan sosial media (Twitter, Facebook, youtube, dan lain-lain) sebanyak 55,20 persen, sedangkan Foke-Nara hanya 34,10 persen. (*)

BACA JUGA
 

Comments

Popular posts from this blog

Sikap Mulan Jameela Terhadap Postingan Ahmad Dhani

Dahlan Dahi

Laporan Haji: Mengapa Ayam dan Daging?

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Madinah TRIBUN-TIMUR.COM-HAMPIR 20 hari di Tanah Suci lewat program ONH Plus, saya bertanya-tanya kenapa kok banyakan menu ayam dan daging, bukan ikan? Oooo... Ini rahasianya. Seorang petugas katering menceritakan, harga ikan tiga kali lipat lebih mahal daripada daging maupun ayam. Harga sekilo ayam, misalnya, hanya lima Real (Rp 13.500) sedangkan ayam 20 Real (Rp 34 ribu). Saudi memang punya wilayah laut di Jeddah, tapi makanan utama orang Saudi adalah daging sapi maupun kambing serta ayam. Untuk konsumsi jamaah, travel-travel Indonesia sudah terbiasa bekerja sama dengan perusahaan katering yang dikelola orang Indonesia. Dengan ini, jamaah bisa mengonsumsi menu dan masakan Indonesia selama menjalankan ibadah haji. Sudah dua kali kami pindah hotel, dua kali pula perusahaan kateringnya milik dan dikelola orang Sunda. Mereka menyiapkan menu ayam goreng, daging, sayur bening, sayur kuning, dan makanan Indonesia lainnya. Di M...

Haji Indonesia dari Mancanegara

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Mekkah DIALEK Surabaya-nya sudah luntur setelah lebih 30 tahun bermukim di Singapura. Pria pengusaha ini menikah dengan wanita Palestina dan menetap serta menjadi warga negara Singapura. Bagaimanapun, pengusaha yang bolak-bolak Singapura-Jakarta dan bermitra dengan beberapa pengusaha Malaysia ini masih tetap cinta Indonesia kendati ia berbicara dalam logat Melayu. Di rumah, ia berbicara dalam bahasa Arab, sedangkan dengan rekan-rekan bisnisnya ia bercakap dalam bahasa Melayu dan Inggris. “Indonesia harus bangga karena merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” kata putra veteran asal Surabaya ini. “Singapura tidak bisa menyebut diri ‘memproklamasikan kemerdekaan’ seperti Indonesia. Mereka hanya merayakan ‘hari kebangsaan’,” tambahnya. Singapura “diserahkan” Inggris, sedangkan Indonesia harus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya mengapa Indonesia setiap tahun merayakan hari ...