Skip to main content

Jeddah yang Menanam Pohon Kelapa

Dahlan Dahi

Laporan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Jeddah

KOTA Jeddah adalah gurun pasir dan bukit berbatu. Cuma saja, pemerintahan kota perdagangan Arab Saudi ini seperti bertekat menjadikan Jeddah sebagai kota hijau.

Upaya penghijauan besar-besaran ini terlihat jelas di jalan-jalan di pinggiran Laut Merah (Red Sea). Pohon kurma ditanam berjejer di tepi pantai sepanjang berkilo-kilo meter.

Yang menarik, Arab sekarang menanam pohon kelapa. Di beberapa ruas jalan di Jeddah, terlihat pohon kelapa yang belum lama ditanam. Tingginya sekitar dua meteran.

Di sela-sela pohon kurma dan pohon kelapa, Jeddah menanam rumput dan bunga-bunga yang dipangkas rapi.

Menyusuri jalan-jalan di sekitar pantai Laut Merah seperti menyusuri kota hijau yang sangat terurus. Serasa kita tidak sedang berada di Arab yang tandus.

Penghijauan juga tampak di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Di bandara haji ini pohon kurma di tanam di tepi jalan masuk bandara, lengkap dengan rumput hijau di bawahnya.

Tentu saja perlu usaha keras dan biaya besar untuk menghijaukan Jeddah yang tandus. Penyiraman harus dilakukan beberapa kali sehari. Terkadang di bawah pohon-pohon yang ditanam terdapat keran air. Untuk menyiramnya tinggal putar keran saja.

Ada pula mesin penyemprot air yang diletakan di taman-taman dalam kota. Kami melintasi Kota Jeddah yang penuh bangunan bertingkat jelang tengah hari dan mesin-mesin penyemprot terus bekerja menyirami taman di sekitar Pelabuhan Jeddah.

Jeddah adalah kota metropolitan. Tidak seperti di dua kota suci (Mekkah dan Madina), warga nonmuslim bisa masuk dan menetap di kota ini.

Gedung-gedung pencakar langit menghiasi kota. Saya mendapati sebuah pusat perbelanjaan di sekitar Hotel Mercure, tempat pakaian pengantin ala Barat di pajang di outlet-outlet khusus pakaian pengantin. Kota ini sangat modern.

Tanaman adalah barang langka di Saudi yang kaya minyak. Hanya orang sangat kaya yang memelihara taman di rumahnya. Karena, upaya besar-besaran pemerintah Jeddah menghijaukan kota sungguh merupakan satu langkah strategis yang sepertinya ingin menyulap tanah Arab yang tandus menjadi hijau.

Karena tanaman langkah di Arab, awan pun jarang terlihat di atas kota. Hujan sangat jarang. Dalam setahun paling lima-enam kali saja hujan turun. Siapa tahu dengan menghijaukan seantero Jeddah, awan berkenan mampir –dan, hmm, siapa tahu kelak hujan akan turun lebih banyak lagi.

Saudi bisa membuat apa saja dengan uang dari kekayaan minyaknya. Bagaimanapun, menghijaukan kota, selain membangun gedung-gedung pencakar langit, adalah langkah strategis Saudi memodernisasi kota.(*)



Laporan ini dimuat di Tribunnews.com, tribun-timur.com, Tribun Timur edisi cetak



Laporan Haji dan Umroh 





 
 

Comments

Popular posts from this blog

Sikap Mulan Jameela Terhadap Postingan Ahmad Dhani

Dahlan Dahi

Laporan Haji: Mengapa Ayam dan Daging?

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Madinah TRIBUN-TIMUR.COM-HAMPIR 20 hari di Tanah Suci lewat program ONH Plus, saya bertanya-tanya kenapa kok banyakan menu ayam dan daging, bukan ikan? Oooo... Ini rahasianya. Seorang petugas katering menceritakan, harga ikan tiga kali lipat lebih mahal daripada daging maupun ayam. Harga sekilo ayam, misalnya, hanya lima Real (Rp 13.500) sedangkan ayam 20 Real (Rp 34 ribu). Saudi memang punya wilayah laut di Jeddah, tapi makanan utama orang Saudi adalah daging sapi maupun kambing serta ayam. Untuk konsumsi jamaah, travel-travel Indonesia sudah terbiasa bekerja sama dengan perusahaan katering yang dikelola orang Indonesia. Dengan ini, jamaah bisa mengonsumsi menu dan masakan Indonesia selama menjalankan ibadah haji. Sudah dua kali kami pindah hotel, dua kali pula perusahaan kateringnya milik dan dikelola orang Sunda. Mereka menyiapkan menu ayam goreng, daging, sayur bening, sayur kuning, dan makanan Indonesia lainnya. Di M...

Haji Indonesia dari Mancanegara

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Mekkah DIALEK Surabaya-nya sudah luntur setelah lebih 30 tahun bermukim di Singapura. Pria pengusaha ini menikah dengan wanita Palestina dan menetap serta menjadi warga negara Singapura. Bagaimanapun, pengusaha yang bolak-bolak Singapura-Jakarta dan bermitra dengan beberapa pengusaha Malaysia ini masih tetap cinta Indonesia kendati ia berbicara dalam logat Melayu. Di rumah, ia berbicara dalam bahasa Arab, sedangkan dengan rekan-rekan bisnisnya ia bercakap dalam bahasa Melayu dan Inggris. “Indonesia harus bangga karena merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” kata putra veteran asal Surabaya ini. “Singapura tidak bisa menyebut diri ‘memproklamasikan kemerdekaan’ seperti Indonesia. Mereka hanya merayakan ‘hari kebangsaan’,” tambahnya. Singapura “diserahkan” Inggris, sedangkan Indonesia harus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya mengapa Indonesia setiap tahun merayakan hari ...