Skip to main content

Laporan Haji: Sarung Indonesia dan Warna-warni Afrika

Dahlan Dahi

Catatan Wartawan Tribun,
Dahlan Dahi, dari Mekah


JARANG ada bangsa di dunia yang mengenal sarung. Di antara yang sedikit itu adalah Indonesia, Malaysia, dan Brunai.

Hanya saja, selama proses ibadah haji, saya melihat hanya jamaah Indonesia saja yang terlihat mencolok memakai sarung bila ke Masjidil Haram Mekkah atau Masjid Nabawi di Madina.

Saya biasanya melihat ke bawah, ke arah kaki, bila hendak mencari orang Indonesia. Bila dia pakai sarung, hampir pasti dia jamaah asal Indonesia.

Ciri lainnya adalah tas kuning. Inilah tas "resmi" jamaah haji reguler. Jamaah ONH Plus biasanya memakai tas pemberian dari travel masing-masing. Karena itulah, warna dan modelnya berbeda-beda. Salah satu yang mempersamakan adalah sarung.

Tentu saja tidak semua jamaah Indonesia memakai sarung. Sebagian sudah menjadi seperti orang Pakistan atau Arab dengan membeli pakaian Muslim khas kedua negara tersebut.

Pakaian Arab dikenal sebagai gamis di Indonesia. Menjuntai sampai ke atas lutut, sambung dari atas ke bawah. Sedangkan pakaian Muslim ala Pakistan terdiri atas dua bagian, baju dan celana. Bajunya biasanya panjang, sampai ke lutut.

Tentu saja pakaian gamis Arab yang terlihat sangat dominan. Selain orang Arab yang memakainya, orang-orang Afrika dan Asia juga ikut-ikutan memakai gamis Arab. Sebagian kecil saja yang memakai pakaian ala Pakistan.

Jamaah Indonesia juga bisa dikenali dari pakaian batik. Pakaian ini sangat khas, tidak ada duanya. Departemen Agama membagi kain batik warna biru kepada setiap jamaah, termasuk jamaah ONH Plus. Kain tersebut lalu dijahit sendiri-sendiri.

Dari sisi warna, jamaah Indonesia dan Afrika tidak ada duanya. Jamaah dari dua kawasan ini senang memakai warna-warna mencolok seperti pink atau merah.

Gunanya tentu saja untuk memudahkan identifikasi group agar pemimpin jamaah tidak kesulitan mencari anggota kelompoknya. Hmm, harap maklum. Seringkali jamaah Indonesia, apalagi yang sudah berumur, kesasar lalu hilang. Butuh waktu berjam-jam untuk menemukannya.

Bagaimanapun, jamaah Afrika lebih gampang dikenali dari warna pakaiannya selain dari warna kulitnya. Warna pakaian ala Afrika ramai sekali dan mencolok: biru, kuning, hitam. Warna-warna ini terang benderang di antara lautan warna putih.

Jamaah Arab-Afrika seperti Tunisia, Aljazair, dan Maroko memakai gamis Arab tapi bukan putih melainkan warna-warni dan aneka corak.

Jamaah Eropa biasanya lebih santai. Ada yang memakai celana panjang biasa dan pakaian kerja tanpa dasi. Ada juga yang mengenakan atasan kaos warna putih saja.

Beberapa jamaah dari China malah lebih santai lagi: mengenakan celana olahraga dan kaos putih. Seperti hendak senam.

Begitulah. Lain bangsa lain pakaian lain warna.(*)


  Laporan ini dimuat di Tribunnews.com, tribun-timur.com, Tribun Timur edisi cetak 




Laporan Haji dan Umroh 




  

Comments

Popular posts from this blog

Sikap Mulan Jameela Terhadap Postingan Ahmad Dhani

Dahlan Dahi

Laporan Haji: Mengapa Ayam dan Daging?

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Madinah TRIBUN-TIMUR.COM-HAMPIR 20 hari di Tanah Suci lewat program ONH Plus, saya bertanya-tanya kenapa kok banyakan menu ayam dan daging, bukan ikan? Oooo... Ini rahasianya. Seorang petugas katering menceritakan, harga ikan tiga kali lipat lebih mahal daripada daging maupun ayam. Harga sekilo ayam, misalnya, hanya lima Real (Rp 13.500) sedangkan ayam 20 Real (Rp 34 ribu). Saudi memang punya wilayah laut di Jeddah, tapi makanan utama orang Saudi adalah daging sapi maupun kambing serta ayam. Untuk konsumsi jamaah, travel-travel Indonesia sudah terbiasa bekerja sama dengan perusahaan katering yang dikelola orang Indonesia. Dengan ini, jamaah bisa mengonsumsi menu dan masakan Indonesia selama menjalankan ibadah haji. Sudah dua kali kami pindah hotel, dua kali pula perusahaan kateringnya milik dan dikelola orang Sunda. Mereka menyiapkan menu ayam goreng, daging, sayur bening, sayur kuning, dan makanan Indonesia lainnya. Di M...

Haji Indonesia dari Mancanegara

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Mekkah DIALEK Surabaya-nya sudah luntur setelah lebih 30 tahun bermukim di Singapura. Pria pengusaha ini menikah dengan wanita Palestina dan menetap serta menjadi warga negara Singapura. Bagaimanapun, pengusaha yang bolak-bolak Singapura-Jakarta dan bermitra dengan beberapa pengusaha Malaysia ini masih tetap cinta Indonesia kendati ia berbicara dalam logat Melayu. Di rumah, ia berbicara dalam bahasa Arab, sedangkan dengan rekan-rekan bisnisnya ia bercakap dalam bahasa Melayu dan Inggris. “Indonesia harus bangga karena merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” kata putra veteran asal Surabaya ini. “Singapura tidak bisa menyebut diri ‘memproklamasikan kemerdekaan’ seperti Indonesia. Mereka hanya merayakan ‘hari kebangsaan’,” tambahnya. Singapura “diserahkan” Inggris, sedangkan Indonesia harus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya mengapa Indonesia setiap tahun merayakan hari ...