Skip to main content

Dahlan Dahi dan Marissa Haque




Sudah cukup saya bersabar. 

Beberapa postingan dan tuduhan keji Ibu Dr @MarissaHaque perlu saya klarifikasi.

Beliau menuduh saya: 

1. Tidak pernah salat 

2. Kader Forkot 

3. Kader PDIP 


Sebelum saya menjawab tuduhan itu, saya jelaskan latar belakangnya.

Tahun 2012 lalu, Dr @MarissaHaque mendatangi saya di kantor Tribunnews di Jakarta. 

Beliau minta semua berita perseteruannya dengan Adhie MS dihapus. 

Ada lebih 20 berita.



Dia juga minta bertemu wartawan yang menulis berita tersebut.

Dua permintaan itu saya tolak.

Saya minta tunjukan berita mana yang salah agar dikoreksi, tidak dihapus. Tidak ada.

Permintaan agar ketemu langsung wartawan yang menulis saya tolak karena sebagai pemimpin, saya harás bertanggung jawab terhadap tulisan wartawan.

Mengapa Marissa Haque ingin menghapus semua berita perseteruannya dengan Adhie MS?

Sederhana. Kata Ibu Marissa ketika itu, setiap kali dia search di Google tentang namanya, selalu muncul berita itu di daftar paling atas.

Saya paham beliau ingin namanya harum, apalagi —ketika itu— sebentar lagi akan meraih gelar doktor.

Tapi menghapus jejak digital tentu bukan perkara mudah. Terlebih kalau berita-berita tersebut benar adanya.

Saya tawarkan solusinya, perbanyak berita positif tentang Ibu Marissa dan saya bisa bantu.  


Setelah kunjungan Ibu Marissa ke kantor Tribunnews itu, kami sempat berkomunikasi via WhatsApp dan nadanya positif. Seperti teman.

Belakangan, muncul beberapa postingan beliau di Instagram yang menyerang saya secara pribadi.

Postingan Ibu Marissa itu dipicu oleh sebuah berita di Tribunnews Network tentang beliau. 

Berita tersebut --seperti berita-berita Tribunnews lainnya-- secara autopost ter-deliver melalui akun Twitter saya, @dahlandahi.

Reaksi beliau luar biasa, membawa masalah ke konteks politik, membawa-bawa nama Jokowi, PDIP, Kompas Gramedia, dan menyerang pribadi saya.

Ketika Ibu Dr Marissa Haque menyerang saya dan menyebut saya tidak pernah salat, menyerang keyakinan saya, rasanya kesabaran saya sedikit terusik.

Saya perlu melakukan klarifikasi.

Saya tegaskan, ini bukan masalah politik, apalagi sampai ke soal pemilihan presiden. Ini masalah berita Ibu Marissa Haque sebagai public figure.

Sekiranya berita tersebut keliru, salah, tersedia banyak prosedur. Silakan tempuh, Bu Marissa. Saya siap.

Terhadap tuduhan-tuduhan beliau kepada saya secara pribadi, berikut saya klarifikasi: 

1. Tidak pernah salat. Alhamdulillah saya sudah naik haji dan empat kali umroh. Rasanya, tuduhan tidak pernah salat itu menggelikan.  

2. Kader Forkot. Ini jelas fitnah. 

3. Kader PDIP. Ini juga fitnah. Saya bukan kader partai politik manapun. 

Semoga penjelasan ini meletakan masalah pada tempatnya, pada porsinya. Salam hormat untuk Ibu Dr Marrisa Haque.


Comments

Popular posts from this blog

Sikap Mulan Jameela Terhadap Postingan Ahmad Dhani

Dahlan Dahi

Haji Indonesia dari Mancanegara

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Mekkah DIALEK Surabaya-nya sudah luntur setelah lebih 30 tahun bermukim di Singapura. Pria pengusaha ini menikah dengan wanita Palestina dan menetap serta menjadi warga negara Singapura. Bagaimanapun, pengusaha yang bolak-bolak Singapura-Jakarta dan bermitra dengan beberapa pengusaha Malaysia ini masih tetap cinta Indonesia kendati ia berbicara dalam logat Melayu. Di rumah, ia berbicara dalam bahasa Arab, sedangkan dengan rekan-rekan bisnisnya ia bercakap dalam bahasa Melayu dan Inggris. “Indonesia harus bangga karena merebut kemerdekaan dari tangan penjajah,” kata putra veteran asal Surabaya ini. “Singapura tidak bisa menyebut diri ‘memproklamasikan kemerdekaan’ seperti Indonesia. Mereka hanya merayakan ‘hari kebangsaan’,” tambahnya. Singapura “diserahkan” Inggris, sedangkan Indonesia harus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk merebut kemerdekaan. Itulah sebabnya mengapa Indonesia setiap tahun merayakan hari ...

Bahasa Indonesia di Raodah

Dahlan Dahi Catatan Wartawan Tribun, Dahlan Dahi, dari Madinah RAODAH adalah sepotong surga di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.  Kawasan suci yang tak seberapa luas ini terletak antara mimbar dan makam Nabi Muhammad SAW. Semua jamaah haji maupun umroh selalu berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke kawasan Raodah di dalam Masjid Nabawi ini untuk salat maupun berdoa karena diyakini sangat makbul. Tahun 2009 ketika umroh, saya belum melihat ada pengumuman yang dipasang di salah satu sisi Raodah. Sekarang saya melihat pemandangan berbeda. Ada pengumuman yang ditulis di kain putih. Ada lima kain di sana, berarti ada lima pengumuman dalam lima bahasa. Salah satunya adalah bahasa Indonesia. Tiga lainnya tertulis dalam aksara Arab, sedangkan satunya lagi dalam versi bahasa Inggris. Pengumuman tertulis dan tinta merah dan hitam. Di sana tertulis “Saudara Saudara” tanpa tanda hubung (-). Saya tersenyum. Lumayanlah. Walau salah, toh ditulis dalam bah2asa Indonesia. Tidak semua jam...